Selasa, 20 Desember 2011

efeK Rumah kaca simbol KebebasaN

Fenomena saat ini, di mana pasar dan media tengah menyoroti musisi atau grup band yang mengusung pop-melayu, atau boy band/girl band sebagai efek akulturasi budaya Korea. Ketika media sedang rajin menyoroti fenomena ini, maka masyarakat banyak dijejali homogenitas jenis musik. Sering kita melihat di televisi, dalam acara musik, baik pagi atau sore hari, penyanyi atau grup band yang tampil hanya itu-itu saja.
Masyarakat hanya ditawarkan satu jenis musik, sehingga masyarakat gak punya pilihan dan mau gak mau memilih dan mendengarkan. Saya gak pernah mengatakan bahwa musik pop-melayu adalah musik kwalitas rendah atau ecek-ecek, dan mereka yang menyukai musik tersbut, bukan berarti berselera rendah. Yang tengah disoroti di sini adalah monopoli media massa terhadap pasar musik Indonesia.
Hal ini juga berimbas kepada para musisi. Jika mereka tidak mengikuti pangsa pasar, maka mereka akan “tidak laku”. Mau tidak mau mereka harus mengikuti selera pasar dan mengubah jenis musik mereka. Berarti kebebasan berekspresi dan berkarya di tekan. Apakah masih ada musisi atau band yang senantiasa untuk mempertahankan idealisme mereka dan melawan arus pasar yang tengah kencang berhembus.
Ternyata ada, beberapa anak muda di kota-kota besar di Indonesia masih memegang teguh idealisme mereka dalam bermusik dan memilih jalur indie label sebagai solusinya. Dengan tidak terikat dengan perusahaan label rekaman, maka mereka tidak ada keharusan untuk mengikuti selera pasar. Salah satu grup band yang bergerak di bawah bendera indie label adalah Efek Rumah Kaca.
Grup band yang terbentuk tahun 2001 ini, telah beberapa berganti nama dan personil. Pada awalnya, band ini bernama Hush, kemudian berubah menjadi Super Ego, kini menjadi Efek Rumah Kaca pada tahun 2005, yang terdiri atas Cholil (vocal dan gitar), Adrian (bass), dan Akbar (drum). Mereka mengusung aliran post-rock, atau ada juga yang menyebut shoegaze (lihat facebook ERK). Keunikan mereka bukan hanya aliran yang mereka usung, juga tema dan lirik yang mereka bawakan. Mereka kerap membawakan tema-tema sosial, budaya, politik, lingkungan, hingga psikologis, dalam lagu-lagu mereka.
Pada tahun 2007, mereka merilis album pertama dengan bertajuk Self title di bawah bendera indie label, Paviliun Record. Kemunculan mereka ternyata mendapat respon yang cukup positif dari beberapa kalangan dan media massa. Buktinya, salah satu lagu mereka berjudul “Cinta Melulu” sempat beberapa kali diputar di radio dan videonya ditayangkan di beberapa televisi swasta.
Lirik lagu sederhana dan menceritakan masyarakat, yakni kondisi musisi yang hanya membawakan lagu-lagu bertema cinta, seakan telah membuat muak, dan tidak dirasakan variatif. Sungguh langkah yang berani dan berbeda. Beberapa kalangan pun menyebut mereka sebagai sebuah band yang cerdas dengan mengangkat isu-isu yang tengah merebak di masyarakat. Pada tahun 2008, mereka merilis album kedua mereka bertajuk “Kamar Gelap”.
Tidak berlebihan jika Efek Rumah Kaca disebut bidadari penyelamat di tengah gelombang pop-melayu dan boy band/girl band yang “latah” mengikuti arus pasar. Semoga ke depannya, semakin banyak penyelamat yang muncul dan menyelamatkan musik Indonesia. Jangan sampai kreativitas dan kebebasan para musisi ditekan demi penguasaan pasar mendapat keuntungan sebesar-besarnya bagi si empunya industri.

Senin, 07 November 2011

Slank Kecewa Pada White Snake

"Slank jadi band pembuka tapi nggak boleh dan nggak bisa ketemu White Snake".




Bisa tampil menjadi band pembuka di acara konser grup band legendaris White Snake, memang menjadi kebanggaan tersendiri bari para personel Slank. Namun, dibalik rasa bangganya, mereka juga menyimpan  rasa kecewa yang dalam.

Saat tampil di Singapura 1 November lalu, para personel Slank kecewa tak bisa bertemu langsung idolanya para personel White Snake di balik panggung. Padahal, Kaka, Bimbim dan kawan-kawan sangat memimpikan bisa bertemu langsung personel band asal Inggris itu. Diakui sang manajer, Bunda Ifet, Kaka dan kawan kawan tampak kecewa.

"Slank jadi band pembuka tapi nggak boleh dan nggak bisa ketemu White Snake, itu bagaimana panitianya, yang paling kecewa Kaka karena sangat ngefans sama vokalisnya,"ujar Bunda Ifet ditemui di acara Mandiri Bersama Slankers, Kawasan Durentiga, Senin 7 November 2011.

Bunda Ifet mengakui dirinya sudah melakukan lobi panjang agar Slank bisa bertemu dengan band idolanya itu. Bahkan para personel Slank juga sempat masuk ke dalam ruang artis, namun, tetap saja, harapan mereka pupus.

"Slank sudah masuk ruang artis dan ingin bertemu untuk foto bareng. Itu juga tidak diizinkan dari mereka. Panitia konser juga angkat tangan untuk masalah itu,"ujar Bunda Ifet lagi.

Dalam konser digelar awal November lalu, Slank memang sukses menghibur para penonton dengan 8 lagu. Kaka bahkan mewujudkan keinginannya membuka baju di depan para penonton. Tapi tetap saja, Kaka merasa kecewa.

"Kaka bisa buka baju dalam konser itu. Ini juga sebagai  bentuk melepaskan kekecewaannya juga pada manajemen dan White Snake sendiri. Tapi ya sudahlah, kita bisa konser atau show seperti di Singapura sudah menjadi suatu pengalaman menarik," kata Bunda Ifet lagi.

Sabtu, 15 Oktober 2011

ULAR PUTIH DAN KUPU-KUPU BERTEMU DI NEGERI SINGA


Press Release,Slankissme | 5 Oct 2011
“Kerja keras kalau kamu mau rock n roll….”
(ROCK N ROLL by SLANK, ALBUM THE BIG HIP)

Potongan lirik dari salah satu lagu SLANK tersebut terasa cocok untuk menggambarkan pencapaian yang diraihnya. Dimana usia band rock terbesar di Indonesia ini mendekati 28 tahun. Sebuah kado yang pastinya terlalu manis untuk dilupakan oleh Bimbim, Kaka, Abdee, Ridho dan Ivan adalah ketika mereka dijadwalkan sepanggung dengan Whitesnake kurang dari sebulan sebelum SLANK merayakan ulang tahunnya di bulan Desember nanti.
1 November 2011 nanti musik rock n’ roll SLANK akan mengguncang Fort Canning Park, Singapura. Band dengan basis massa fanatik yang tersebar hingga di luar Indonesia ini menjadi satu-satunya band pembuka Whitesnake.

Tentunya LAMC Production, pihak penyelenggara yang berbasis di Singapura sudah memperhitungkan dengan cermat akan hal ini. Mereka mempertemukan SLANK dengan Whitesnake, salah satu dedengkot heavy metal.
Bagi SLANK, ini bukan kali pertama mereka tampil di luar negeri. Sebelumnya, SLANK telah menjelajah lintas benua ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika. Sedangkan catatan konser di dalam negeri tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena mulai dari kota-kota besar hingga kota terpencil, dimana perjalanan tur harus disambung dengan bus atau perahu motor seperti di pedalaman Kalimantan, sudah mereka datangi untuk bertemu dengan Slankers yang ada di pelosok.
Sebagai band rock terbesar di Indonesia, SLANK juga sangat produktif. Setiap tahun selalu ada album yang dirilis. Beberapa album di rilis di lingkup internasional. Seperti album “Anthem for the Broken Hearted” yang rilis di USA tahun 2008 lalu dengan lirik lagu berbahasa Inggris. Begitu juga album “The Big Hip” yang juga rilis di Jepang. Dalam album ini SLANK berkolaborasi dengan musisi dari Jepang menghasilkan lagu-lagu dalam bahasa Inggris, Indonesia dan Jepang.
Album SLANK yang laku terjual jutaan copy selalu mengusung semangat PLUR (Peace, Love, Unity, Respect). Lagu-lagu mereka hadir dalam balutan rock n’ roll dan blues. Meski pun begitu SLANK juga piawai memainkan lagu dalam aransemen reggae, pop dan sentuhan dangdut yang tetap dengan ciri khas musik SLANK.
Bagai sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Begitulah yang diungkapkan SLANK tentang konser di Singapura ini bersama Whitesnake. Negara kota ini memang selalu mendatangkan band kelas dunia untuk bermain di sini. Tentunya didukung dengan stage, sound system dan lighting yang spektakuler sehingga konser SLANK dan Whitesnake nanti akan menjadi pertunjukkan yang megah.
Whitesnake sendiri baru saja merilis album kesebelas yang bertajuk “Forevermore” pada Maret 2011 lalu. Butuh waktu tiga tahun untuk menantikan album ini setelah “Good to Be Bad” rilis April 2008 silam.
Meski gonta-ganti formasi, musik mereka yang memadukan blues dan soul dengan akar rock yang kuat, masih sanggup memekakkan telinga. Hal ini menasbihkan Whitesnake sebagai salah satu raja hard rock dunia.
Formasi terbaru Whitesnake saat ini pada vokal masih dipegang David Coverdale dengan ciri khas lengkingannya. BriianTichy (drum), Michael Devin (bass) serta duo gitaris Reb Beach dan Doug Aldrich.
David Coverdale, vokalis berkarisma, membentuk Whitesnake pada tahun 1978 di North Yorkshire, Inggris. Sebelumnya ia memperkuat Depp Purple. Lagu “Soldier of Fortune”, salah satu masterpiece Depp Purple menjulang lewat vokal Coverdale.
Di awal berdirinya, Coverdale menggamit Bernie Marsden, Micky Moody, Neil Murray, David “Duck” Dowie (drum) dan Brian Johnston (keyboard). Pada perjalanannya, banyak musisi terkenal yang pernah bermain untuk band ini. Diantaranya Adrian Vandenberg dan Steve Vai pernah mengisi posisi gitaris. Untuk formasi terbaik Whitesnake, banyak yang memilih formasi David Coverdale, Rudy Sarzo, Tommy Aldridge, Adrian Vandenberg dan Steve Vai.
Sebelum sukses secara komersial dengan heavy metal, band ini sempat menuai kritik karena dianggap masih terpengaruh oleh Deep Purple. Beberapa rekan Coverdale di Deep Purple juga sempat bergabung bersamanya di Whitesnake.
Sedikit kilas balik. David Coverdale pernah berkunjung ke Jakarta Desember  1975. Ketika itu ia masih memperkuat Deep Purple yang menggelar konser di stadion utama Senayan. Selain David Coverdale, formasi Deep Purple saat itu di dukung juga oleh Glen Hughes (bass), Ian Paice (drum), Tommy Bolin (gitar) dan Jon Lord (keyboards). Sebagai band pembuka saat itu dipilih God Bless. Kini, 36 tahun setelah konser tersebut, David Coverdale bersama band-nya, Whitesnake, akan sepanggung kembali dengan band asal Indonesia, SLANK. Negeri Singa menjadi sejarah dimana “Ular Putih’ dan “Kupu-kupu” bertemu dalam balutan musik rock.
Satu hal unik yang menjadi kesamaan antara SLANK dan Whitesnake, yaitu kedua band ini hanya menyisakan satu personel sejak kali pertama band mereka terbentuk. David Coverdale di Whitesnake dan Bimbim di SLANK. Kedua band ini juga baru sekarang menggelar konser di Singapura.
More info:
SLANK RECORDS
Jl. Potlot III No. 14 Duren Tiga, Jakarta Selatan 12760.                        http://vimeo.com/4988518
Telp (021) 7919 6819, fax (021) 7919 3437.
www.slank.com
www.facebook.slank.com                                      


SLANK International Event :
  • SLANK Charity Concert For Maluku Conflict, Tokyo & Nagoya, Japan, 11-13 Februari 2000
  • Shout Asia, Seoul, South Korea, 28 Juni 2003
  • SLANK Charity Concert, Osaka & Nagoya, Japan, 14-15 Agustus 2004
  • MTV Asia Aid, Bangkok, Thaliand, 10 Februari 2005
  • Echo Asia Music Concert, Gwangju, South Korea, 7 Oktober 2005
  • SLANK Winter Tour, Charity For Sumatera, Nagano, Japan 2 Januari 2006
  • Album Launch, SLANK Since 1983, Malaysia, 20 Februari 2006
  • SLANK America Tour 2006, LA, San Francisco, DC, New York, USA 4 -14 September 2006
  • Celebrate Concert Feat SLANK, Kuala Lumpur, Malaysia, 5 Januari 2007
  • Participant on Independent Day of Timor Leste, 17 Mei  2008
  • SLANK – The Big Hip Album Promo Tour, Nagoya,Tokyo, Japan, 3-7 Mei 2008
  • Europe Tour (Belanda, Inggris, Jerman, 21 – 31 Mei 2008)
  • Anthem for the Broken Hearted U.S Tour, 22 Oktober – 22 November 2008
  • Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, 9 Mei 2010
  • Le Meridien, Dubai, 9-13 Juni 2010
  • Indonesian Worker Appreciation in Concert 2011, Incheon, South Korea, 4-7 Februari 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

White Snake opening band SLANK

Singapore, you asked for it... and now you've got it.
WHITESNAKE, the legendary rock ’n’ roll legacy founded and formed by renowned singer/songwriter David Coverdale, plans on making a huge splash on this side of the pacific on the Asian leg of the 2011 'FOREVERMORE' Tour, playing at the historic Fort Canning Park in the beautiful and exciting city of Singapore on November 1 at 8pm.
WHITESNAKE are touring the globe in support of their brand new storming Snake statement, their 11th studio album – “FOREVERMORE.”

Opening band: SLANK

Whitesnake Bio 2011

Raw rock ‘n’ roll...
Raw, rootsy, hip-swinging-head-bangin’ rock ‘n’ roll...
Raw, rootsy, hip-swinging-head-bangin’ mud-crusted
scream-your-heart-out-and-get-riff-whipped rock-and-roll!
It’s what many promise but few can deliver, it’s what millions of people crave in this era of craft less musicianship, and it’s what Whitesnake, the mighty, glorious, loud and proud Whitesnake, have always delivered in spades. And with their 11th studio album Forevermore, the hungry, the desperate, the poor and the famished are once again about to be sensationally satisfied by the Snake.
Recorded, produced and mixed by legendary singer/songwriter and founder David Coverdale, guitarist and co-writer Doug Aldrich and Michael McIntyre at Snakebyte Studios and Grumblenott Studios & Villas in Lake Tahoe, Nevada (with additional work at Casa Dala, Sherman Oaks, CA) Forevermore draws effortlessly from Whitesnake’s sensational past while cutting new, dynamic teeth to show the future which lies ahead.
“It has all the classic Whitesnake flavors, but it is very much its own beast,” says Coverdale bristling with pride, “I always say that Whitesnake albums are one large family, that the songs share a common bloodline, and with Forevermore you can hear all the relatives mixing effortlessly in the room.”
From the hip-shaking, blues-fuelled stomper “Steal Your Heart Away” to the beautifully-crafted, classic Snake balladry of ‘Easier Said Than Done’, there is indeed a clear lineage running through Whitesnakeʼs body of work. It’s roots lie in Saltburn-By-The-Sea, North Yorkshire, England, David Coverdale’s hometown, and then Redcar, Teesside, from where a brave 21-year-old singer/songwriter answered a music press ad to become the new singer for Deep Purple in 1973.
Coverdale went on to form Whitesnake in 1977, and thus began a journey which has taken Coverdale from the heavy blues rock of the late ‘70s ‘Lovehunter’ and ‘Come an’ Get It’ era through to the explosive hard rock reincarnation of the Snake sound with 1987’s self-titled mega-million-selling smash-hit album.
Forevermore forges an immediate rapport with the listener both musically and lyrically, Coverdale continuing to find empathy with the audience as he weaves his way through all the classic elements of love and romance. The first video from Forevermore, ʻLove Will Set You Freeʼ, isa shining example of the romantic which resides within. “It’s about when I met my wife, Cindy...” he explains, “and the lyric ‘something in your smile was so inviting’, something in your eyes told me to stay, something in your touch electrified meʼ because it was exactly like that. When we held hands for the first time, it was simply electrifying. And I think, well I hope, that most of us have enjoyed such memorable, electric moments in our lives. It still resonates...”
There is also the mighty and monstrous title track, ‘Forevermore’ a bombastic, epic ballad which encapsulates Whitesnake for Coverdale. “It’s a love song, but it’s one about reflecting on everything I’ve been through in my life and how it has all been a preparation for me so I could realize and appreciate what I have going for me now is very special and precious. It’s a perfect Whitesnake song for me..It has all the elements I enjoy...”
Indeed, for those who have wondered what Coverdale has been up to, Forevermore is your insider’s guide. “You really can know aspects of who I am through my lyrics and through my songs,” says Coverdale, “Because most of the songs are diaries, snapshots from particular episodes from my life experience. I’m not one to dwell on the past, but I do like to remember it fondly when I can…”
Forevermore is the fruit of perhaps Whitesnake’s most cohesive teamwork yet, Coverdale having put together a band which has the perfect balance of talent and temperament. Guitarists Aldrich(ex-Dio) and Reb Beech (Winger) came onboard for Whitesnake’s 25th anniversary back in 2003, and they have been joined by drummer Briian Tischy (Billy Idol, Foreigner, Lynch Mob) and bassist Michael Devin (Lynch Mob, Kenny Wayne Shepherd).
“Nothing delights me more than teamwork,” says Coverdale, “and this band feels perfect. I have an inspiring writing partnership with Doug which is based on friendship and mutual respect an a shared vision for what we feel should be Whitesnake. There is the added bonus of a great sense of fun within this band which I cannot wait to share with audiences on the road...
The album also features former Whitesnake keyboardist Timothy Drury, and a special guest appearance by Jasper Coverdale, son of David!
“I am blessed with two astonishing children,” beams Coverdale, “and this seems to be a family affair, with my wife featured in the first video, as well as Jasper. He would wander down while we were recording and add some stuff here and there, a bit of percussion on the swamp mix of ‘Whipping Boy Blues’, a bit of singing, and it was great fun!”
Fun, energy, drive and passion remain at the forefront of Whitesnake’s ethos, and for Coverdale it would be impossible to continue without possessing bags of the stuff.
“I don't think I could be here without having a root passion for this, and for life in general. I am fortunate that caravans of camels deliver wondrous blessings to my doorstep to charge me up everyday...” he beams.
It makes Forevermore not just a statement of now but a Snake statement of intent. Because as you can hear, Coverdale and co don’t plan on leaving anytime soon…Get on board before it’s too late...

SLANK Bio

SLANK has sold more than 15 million records, performed in front of millions of rabid fans and are treated like royalty in their home country yet chances are you’ve never heard of them. That is about to change. Introducing Kaka, Bimbim, Ridho, Abdee and Ivanka: the members of Slank, Indonesia’s biggest rock band. “Slank uses its music to promote P.L.U.R. (peace, love, unity and respect) between the world’s diverse religious, ethnic and economic communities” says Bimbim.
Despite Slank’s immense popularity, the band’s members are looking forward to their biggest challenge yet: breaking through in new International markets. As Bimbim admits, Slank welcomes its return to the musical underground and is willing to do whatever it takes, even if it means building its following one “Slanker” at a time. (If you have not already figured it out, a “Slanker” is a loyal Slank fan, the equivalent of a Grateful Dead “Deadhead”.) The first step in meeting this challenge: Anthem for The Broken Hearted. The band’s first English-language record, it is 10 tracks of catchy tunes that blends Slank’s appreciation for artists as varied as The Rolling Stones and Bob Marley.

Rabu, 06 Juli 2011

13 Lagu Slank Diremix 9 DJ

Sukses dengan 17 album studio baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris tidak membuat slank puas berkiprah di industri musik tanah air. Kali ini, menambah satu lagi koleksi mereka, karya Kaka dkk dirangkum dalam album bertajuk SLANK PARTY - NONSTOP DISCO DEEJAY REMIX yang berisi 13 lagu yang remix oleh 9 Disc Jockey yang tergabung dalam Independence 3 yakni DJ Lotuz Dizco Mafia, DJ Imam Hood, DJ Rudhy'z DJ R, DJ August, DJ Abow Djail, DJ A Soon, DJ Telly Avaro, DJ Angga, dan DJ D Jackerss.
Ditemui peluncuran album di Pitstop Hotel Saripan Pasific, Jakarta Pusat, Rabu (22/6), Amir selaku produser menjelaskan bahwa ide pembuatan album Slank versi house musik ini berawal dari pengalamannya yang sering ke dunia malam 3 tahun lalu. "Waktu itu ada beberapa tamu request untuk lagunya Slank. Ternyata Slank banyak fansnya juga di tempat dugem," ujarnya.
Sementara itu, soal promosi album sendiri pihaknya tidak ada kendala yang berarti. Apalagi Slank sendiri memang berkeinginan untuk memiliki album seperti ini. "Kita hanya mem-produce dan so far nggak ada masalah. Kita juga sempat ngobrol dengan para DJ untuk hal ini dan mereka nggak ada masalah," ungkap Deni di bagian promosi.
Dalam album ini, ke-13 lagu Slank yang terpilih adalah Virus, Orkes Sakit Hati, Bang Bang Tut, Jurus Tandur, Pulau Biru, Balikin, Seperti Koruptor, HAM Burger, Terlalu Manis, Kalau Aku Jadi Presiden, Ku Tak Bisa, Slank Dance, dan Kamu Harus Pulang. Pemilihan ini pun tidak dilakukan sendiri oleh produser maupun Slank, melainkan secara bersama-sama.
"Brain storming bareng, tapi tetep kita ajuin bareng. Lagu-lagu yang di-remix itu lagu yang nggak kebayang dibikin house musik, seperti Virus yang slow tempo, Pulau Biru itu kan rock banget, tapi DJ ini pengalaman banget dirombak. Gue pernah denger lagu Kamu Harus Pulang di-remix, tapi nggak enak banget kalau lagunya itu Kamu Harus Pulang hehehe...," kata Kaka.
Lalu, bagaimana caranya ke-9 DJ tersebut memilih lagu mereka? "Kita diberikan lagu oleh Amir dan kita bebas disuruh milih. Kebetulan saya dapat 3 lagu, itu tergantung DJ-nya," jawab DJ Lotuz, "Ya pada prinsipnya saya coba lagu Virus itu dinikmati dengan tempo yang berbeda, enak nggak lagu ini diginiin, kalau nggak nggak enak kita rombak lagi. Ide ini sudah dari 2 tahun lalu dan Februari 2011 kita baru dapat bahan dan pengerjaan itu 1 bulan."

Minggu, 29 Mei 2011





slank in bali dg slankers n slanky ngurah rai denpasar bali. 28 mei bergetar dg swara slankiss indonesia n scooterisnya,,,,






berangkaaaaaaaaaaaaaat.........................................................................................................! piss


Selasa, 24 Mei 2011

Ridho, Slank Selalu Membawa Pesan Perdamaian

Tak ada yang mengira, di balik terselenggaranya konser Bersama Kita Bintang yang menghadirkan God Bless, GIGI, Naif, Nidji, dan Andra and The Backbone, terdapat sosok penting di belakang layar, yaitu Ridho, salah satu gitaris andalan Slank.
"Sebetulnya konser ini awalnya untuk Slank, tapi karena Slank susah mendapatkan ijin, kita berpikir bagaimana event tetap bisa jalan. Ya akhirnya kita berikan kepada temen-temen tadi," ujar Ridho saat ditemui Hard Rock Cafe Jakarta, Rabu (16/6).
Terpilihnya God Bless dan pendukung lainnya dalam konser tersebut, menurut Ridho, karena band-band tersebut mewakili tema persahabatan yang diusung penyelenggara.
"Mereka tidak hanya sekedar band, tapi mereka sudah seperti keluarga," kata Ridho.
Untuk ijin keamanan konser sendiri sudah dinyatakan aman oleh Ridho.
"Kita sudah bekerja sama dengan pihak Kepolisian dan Angkatan Udara. Kalau soal Slank susah dapat ijin, tanyakan saja kepada manajemen. Kalau gara-garanya Slankers begajulan, mungkin tidak semuanya karena kita selalu membawa pesan perdamaian," tukasnya.



SLANK

biografi SLANK



Group musik Slank adalah salah satu grup musik papan atas, yang bermula dari berdirinya Cikini Stones Complex (CSC) pada Desember 1983, yaitu grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta.

CSC terdiri dari Bimo Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal), dan Well Welly (vokal), yang banyak mengekspresikan kecintaan pada lagu-lagu Rolling Stones. Namun Sayang, grup ini tidak bertahan dan membubarkan diri.

Seiring berkembangnya waktu, Slank mengalami perubahan personil sampai 14 kali pada 1996 yang bertahan hingga sekarang. Formasi terakhir yang dimulai dari album ke-7 Slank, terdiri dari Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar), dan Abdee (gitar).

Album Slank, di antaranya Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy) (1990), Kampungan (1991), Piss (1993), Generasi Biru (1995), Minoritas (1996), Lagi Sedih (1996), Tujuh (1997), Mata Hati Reformasi (1998), 1999 (999), Virus (2001), Satu Satu (2003), Bajakan! (2003), Road to Peace (2004), Plur (2005), Slankisme (2006) dan Slow But Sure (2007).

Sementara itu, lagu Gosip Jalanan dari album PLUR yang dirilis pada 2004 berbuah sorotan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Slank yang saat itu menjadi duta anti-korupsi untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dianggap 'melecehkan' dewan melalui syair-syair lagu tersebut. DPR-RI melalui Lembaga Kehormatan Dewan berencana melancarkan tuntutan pada grup anak muda ini, meski kemudian rencana tersebut dibatalkan.

Rencana Slank untuk Go International mulai terlihat di pertengahan 2008. Dengan kolaborasi dengan The Big Hip, sebuah band asal Jepang, menghasilkan sebuah album, THE BIG HIP. Hebatnya di album ini, Slank menggunakan 3 bahasa sekaligus, Indonesia, Jepang dan Inggris. Bagi para slanker, Slank bakal memberikan bonus berupa VCD Exclusive kegiatan Slank di Jepang bila pembelian kaset atau CD album terbaru Slank.

Selain itu band ini juga giat mendukung berbagai acara sosial. April 2010, Slank tampil pada acara Earth Live yang mengusung tema lingkungan. Slank menyerukan perlunya hemat dalam menggunakan sumber daya alam termasuk air.

Jumat, 06 Mei 2011

Biodata Personil SLANK



Bimbim

Bimo Setiawan Almachzumi (lahir di Jakarta, 25 Desember 1966; kerap disapa

dengan panggilan Bim-Bim) adalah pemusik serta pendiri dari grup musik Indonesia, Slank. Di

grup Slank, Bim-bim memainkan instrumen drum.

Bersama Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal), Bimbim ...

mengekspresikan kecintaannya terhadap karya-karya Rolling Stones. Pada Desember 1983 mereka

mendirikan Cikini Stones Complex (CSC), grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan

Cikini, Jakarta, yang merupakan cikal bakal Slank.

Dalam perjalanannya, mereka mengalami perombakan personil hingga akhirnya terbentuk formasi

ke-14 pada 1996 yang bertahan sampai sekarang. Formasi terakhir, yang dimulai dari album

ketujuh Slank, terdiri dari Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan

Abdee (gitar).



Nama lengkap:Bimo Setiawan Almachzumi

Nama panggilan:Bimbim

Tempat tanggal lahir:Jakarta, 25 December

Agama:Islam

Tinggi/Berat badan:173 cm / 52 kgs

Hobi:Soccer

Influnce:Van Hallen, Rolling Stones, Queen

Instrumen:Drums / Percussions / Guitar
_________________________________________________________________________________________________

KA-KA

Akhadi Wira Satriaji atau kerap di sapa Kaka (lahir di Jakarta, 10 Maret 1974)

adalah sepupu Bim-bim, pendiri Slank. Di Slank, Kaka mengisi sektor suara.

Bungsu dari empat bersaudara ini mulai mengenal musik sejak SMP. Namun dirinya bergabung

dengan Slank baru saat duduk di kelas 1 SMA pada tahun 1989. Ia menempati posisi vokal

menggantikan posisi Erwan yang keluar dari Slank. Dunia artis yang penuh kehidupan glamour dan

foya-foya sulit untuk dihindari, Kaka pun turut terjebak dalam dunia hitam narkoba. Awal mula

mengkonsumsi pil neraka ini adalah mencoba-coba, tetapi kemudian jadi ketagihan. Akhirnya

sejak tahun 2000, dengan dibantu terapi obat- obatan Cina, Kaka menjauhkan diri dan tidak

menyentuh barang haram itu lagi.

Kaka menikah dengan Natasya pada hari Jumat tanggal 13 Desember 2002. Pernikahan ini

merupakan pernikahan kedua Kaka. Dari pernikahan pertamanya, Kaka dikaruniai seorang anak

Solielluna (lahir 1996) dan dari pernikahan keduanya, Chaska Satriaji (lahir 6 April 2004).



Nama lengkap:Akhadi Wira Satriaji

Nama panggilan:Kaka

Tempat tanggal lahir:Jakarta, 10 March

Agama:Islam

Tinggi/Berat badan:171 cm / 60 kgs

Hobi:Soccer

Influence:Bob Marley, David Coverdale

Instrumen:Guitars / Vocal Cord
________________________________________________________________________________________________

RIDHO

Mohammad Ridwan Hafiedz atau Ridho (lahir 3 September, 1973, Ambon, Indonesia) adalah

gitaris, vokal pendukung, dan penulis lagu Indonesia. Ia adalah gitaris Slank dan vokal

pendukung dengan gitaris lainnya, Abdee Negara. Dengan Slank, Ridho telah membuat 9 album

studio dan 3 album live, dan satu album kompilasi yang dirilis Mei 2006.

Ridho lahir dan besar dalam keluarga Islam di Ambon. Dia bermain gitar sejak berusia 7 tahun.

Karier profesionalnya mulai saat membentuk grup musik LFM di tahun 1991. Setelah menyelesaikan

pendidikan formalnya, Ridho pergi ke Hollywood, Amerika Serikat untuk belajar musik di

Musician Institute untuk mengasah bakatnya.

Pada tahun 1996, tiga dari lima anggota Slank mengundurkan diri. Alasan pengunduran diri

mereka terkait masalah kecanduan narkoba yang dialami oleh sang drumer, Bim-Bim dan vokalis,

Kaka. Meski demikian, Slank kemudian menambah 3 anggota baru (Abdee, Iva, dan Ridho), untuk

‘menghidupkan’ kembali Slank.



Nama lengkap:Mohammad Ridwan Hafiedz

Nama panggilan:Ridho

Tempat tanggal lahir:Ambon, 3 September

Agama:Islam

Tinggi/Berat badan:173 cm / 50 kgs

Hobi:Soccer

Influense:Blues Saraceno, Nick Nolan, Beatles, Jimmy Hendrix

Instrumen:Guitars
________________________________________________________________________________________________

ABDEE

Abdee Negara atau populer dengan Abdee Slank, lahir di Donggala, Sulawesi Tengah 28 Juni

1968. Ia adalah seorang gitaris, vokal pendukung, penulis lagu bagi grup musik Slank.

Sementara Slank sendiri adalah grup musik yang selalu eksis menelurkan album-albumnya sejak

1983. Grup ini semula merupakan grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan Cikini,

Jakarta, yang terdiri Bimo Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal)

dan Well Welly (vokal).

Sayang grup ini tidak bisa bertahan dengan formasinya, sehingga berturut-turut terjadi

perombakan personil sampai akhirnya terbentuk formasi yang ke-14 pada 1996 dan bertahan sampai

sekarang.

Pada formasi terbentuk terdiri, Kaka masuk sebagai vokalis, dengan personel lain terdiri dari

Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar).



Nama lengkap:Abdee negara

Nama panggilan:Abdee

Tempat tanggal lahir:Donggala, 28 June

Agama:Islam

Tinggi/Berat badan:170 cm / 50 kgs

Hobi:Motor Cross

Influense:Keith Richard, Jimmy Hendrix

Instrumen:Guitars
________________________________________________________________________________________________

IVAN

Ivan Kurniawan Arifin atau yang lebih akrab di panggil Ivan ini merupakan pencabik Bass

Slank. Pria kelahiran Jakarta ini mulai bergabung di Slank sejak tahun 1997 menggantikan

Bongki.



Nama lengkap:Ivan Kurniawan Arifin

Nama panggilan:Ivanka

Tempat tanggal lahir:Jakarta, 9 Desember

Agama:Islam

Tinggi/Berat badan:170 cm / 55 kgs

Hobi:Musics